Kamis, 07 Februari 2013

KURANGNYA MOTIVASI BELAJAR SISWA


PENDAHULUAN
A.    Rasional
 Sebagai mahkluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Dalam perjalanannya seringkali ada hambatan-hambatan berupa masalah-masalah kehidupan baik yang ringan maupun yang berat. Tingkat kesulitan yang dihadapi manusia berbeda bagi setiap individunya karena manusia diciptakan sebagai mahkluk unik. Perbedaan itu meliputi jenisnya, kadarnya maupun lama atau tidaknya masalah itu dialaminya. Di dalam sekolah terdapat komponen yang mengandung dalam suatu proses pembelajaran. Salah satu komponen yang penting yaitu motivasi antara siswa dan interaksi siswa dan guru. Untuk itu guru di tuntut memiliki profesionalisme yang tinggi agar dapat melaksanakan tugas dengan baik dan mampu menghadapi tantangan dan hambatan yang baik pula. Guru harus mampu dan memahami secara obyektif mengenai keadaan siswa, tingkah laku siswa dan latar belakang siswa dan kesulitan-kesulitan yang di hadapi siswa.
Permasalahan yang di hadapi siswa cukup komplek diantaranya ketidak disiplinan dalam belajar yang menimbulkan kesulitan siswa itu sendiri. Keberhasilan siswa dalm belajar  di tunjang faktor internal dan external. Adanya faktor internal dan external ini akan membantu guru dalam memahami kondisi siswa pada proses belajar terhadap memenuhi permasalahan. Untuk memenuhi permasalahan siswa salah satunya yaitu melalui studi kasus. 
 Penyelesaian masalah dapat diatasi sendiri atau dengan bantuan orang atau pihak lain. Untuk masalah atau kasus yang berat perlu dilakukan suatu studi kasus untuk penyelesaiannya. Bimbingan dan konseling untuk menyelesaikan masalah tertentu yang cukup berat menggunakan metode studi kasus.
Penggunaan kata “kasus” dalam bimbingan dan konseling tidak menjurus kepada pengertian-pengertian atau tindak-tindak kriminal atau perdata. Kata kasus digunakan untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu permasalahan yang sangat kompleks pada diri seseorang yang perlu mendapatkan perhatian dan pemecahan demi kebaikan orang yang bersangkutan.
           Rendahnya kualitas SDM Indonesia lebih dikarenakan mutu dan kualitas pendidikan Indonesia yang masih rendah. Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam mencetak SDM yang berkualitas dan berkompeten di bidang masing-masing. Sumber Daya Manusia yang dihasilkan diharapkan mampu bertahan dan menang dalam menghadapi persaingan global. Hal tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu secara mikro bahwasanya pendidikan nasional bertujuan untuk membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beretika (beradab dan berwawasan budaya bangsa Indonesia), memiliki nalar (maju, cakap, cerdas, kreatif, inovatif, dan bertanggungjawab), dan berkemampuan komunikasi sosial. (Mulyasa, 2004 : 21). 
Lingkungan sekolah merupakan suatu tempat atau lembaga yang dapat mengantarkan seseorang untuk menimba ilmu pengetahuan dan wawasan sehingga dapat mengantarkan seseorang membentuk pribadi yang seutuhnya sebagai makhluk pribadi dan sosial. Sebagai salah satu sarana pendidikan formal, sekolah merupakan sarana peningkatan tingkah laku, baik dalam hal kognitif (ilmu pengetahuan), afektif (sikap) maupun psikomotor (keterampilan). Dalam perkembangannya, sekolah memiliki fasilitas yang lebih terorganisir yaitu pengajaran yang baik, sarana dan prasarana yang memadai dan materi yang sesuai dengan sistem pendidikan akademik.
Dalam wadah pendidikan, sekolah mempunyai komponen-komponen dalam pembelajaran. Komponen-kompoen tersebut diantaranya adalah guru dan siswa. Siswa sebagai peserta didik yang menerima input dalam proses belajar mengajar baik berupa pelajaran yang berhubungan dengan intelegensi atau pendidikan moral maupun etika dan sikap. Sebagai subjek, siswa adalah kunci utama dari semua pelaksanaan pendidikan. Tiap-tiap siswa memiliki potensi dan kemampuan berbeda yang harus dikembangkan oleh guru di sekolah. Disinilah letak pentingnya peranan seorang guru yang dituntut untuk selalu professional dalam menjalankan tugasnya.
Di sekolah, guru memiliki peranan yang sangat penting. Seorang guru harus menguasai kompetensi ilmu pengetahuan yang diajarkan. Selain itu, guru juga berperan sebagai pembimbing yang mengarahkan siswanya sehingga menjadi manusia yang cerdas, terampil, berbudi pekerti luhur, dapat menguasai diri, berkepribadian dan dapat membangun diriya untuk bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa. Oleh karena itu, profesi guru sebagai pendidik tidak dapat dipandang remeh karena mendidik bukanlah suatu hal yang mudah.
Seorang guru yang baik harus dapat memahami situasi dan kondisi siswa. Selain itu, guru harus bisa membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi siswa, sehingga siswa dapat terlepas dari permasalahan. Siswa sebagai individu, tidak terlepas dari permasalahan baik yang menyangkut masalah belajar atau masalah yang berhubungan dengan pribadi orang tua, guru dan teman. Dalam menyikapi masalah tersebut, kecermatan dan ketepatan guru sangat diperlukan dalam pemberian bantuan terhadap siswa, karena berbagai masalah yang dihadapi oleh siswa harus segera ditangani demi terciptanya situasi kondusif bagi proses belajar mengajar.
Sehubungan dengan hal tersebut, praktikan mengambil judul Kurangnya Minat dan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Mata Pelajaran Bahasa Inggris  di SMP Nasional Malang   yang akan digunakan dalam penyusunan laporan ini.
B.     Pengertian Layanan Bimbingan Siswa
Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang pengertian layanan bimbingan siswa, maka lebih lanjut akan diuraikan pengertian bimbingan sebagai kunci dari pemecahan masalah yang dihadapi oleh siswa.
Bimbingan merupakan tindakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik. Bantuan yang dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. Tercapainya penyesuaian diri, perkembangan optimal dan kemandirian merupakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan.
Menurut Walgito (1970:15) dalam buku bimbingan dan penyuluhan di sekolah mengemukakan bahwa “bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan dalam kehidupannya agar individu itu dapat mencapai kesejahteraan dalam hidupnya”.
Prayitno, dkk (2003:25) mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Berbeda dengan pandangan (Frank W. Miller 1961:9), yang menyatakan bahwa bimbingan adalah proses membantu individu untuk mencapai pemahaman diri dan arah diri terutama untuk membuat penyesuaian maksimum terhadap sekolah, rumah tangga dan masyarakat.
Dalam buku pedoman pelaksanaan Pengalaman Praktek Lapangan (PPL) Universitas Kanjuruhan Malang (2007/2008) dijelaskan bahwa praktik layanan studi kasus kesulitan belajar bidang studi adalah upaya mengenal, memahami dan menetapkan siswa yang mengalami kesulitan belajar, khususnya kesulitan belajar bidang studi, dengan kegiatan mengidentifikasi, mendiagnosis, memprognosis dan memberikan pertimbangan pemecahan masalah.


C.    Tujuan Layanan Bimbingan Siswa
Kegiatan layanan studi kasus kesulitan belajar bertujuan untuk mengenal latar belakang pribadi dan sosial siswa yang mengalami kesulitan belajar, khususnya kesulitan belajar bidang studi serta memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar, faktor-faktor penyebabnya dan penetapan kemungkinan pemecahannya, baik cara pencegahan maupun penyembuhannya.
Berdasarkan pengertian dari layanan bimbingan terhadap kesulitan belajar siswa, maka tujuan yang akan dicapai adalah sebagai berikut :
1.      Tujuan umum
Secara umum, layanan bimbingan siswa ditujukan agar :
a.       Mengenal latar belakang pribadi siswa.
b.      Membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar dalam upaya mencapai prestasi belajar yang optimal.
c.       Memahami faktor penyebab kesulitan belajar siswa, serta faktor-faktor penyebab dan cara menemukan dan menetapkan pemecahannya, baik secara pencegahan maupun penyembuhan.
d.      Mampu mengembangkan pengetahuan tentang berbagai nilai dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan lingkungan yang lebih luas.
2.      Tujuan khusus
Secara khusus, layanan bimbingan siswa ditujukan agar :
a.       Membantu siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehubungan dengan proses belajar mengajar.
b.      Membantu siswa mengembangkan pemahaman diri sesuai dengan kecakapan, minat, pribadi, hasil belajar serta kesempatan yang ada.
c.       Memberikan dorongan didalam pengarahan diri, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan keaktifan dalam proses pendidikan.
d.      Membantu siswa untuk hidup didalam kehidupan yang seimbang.

D.    Manfaat / Pentingnya Layanan Bimbingan Siswa
Layanan bimbingan siswa memiliki arti yang sangat penting dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Secara umum, layanan bimbingan siswa ini memberi manfaat bagi :
1.      Bagi Kepala Sekolah
Layanan bimbingan kesulitan belajar siswa ini dapat dipergunakan sebagai salah satu sumber informasi tentang siswanya sehingga dapat digunakan sebagai landasan dalam menentuksn kebijakan tentang masalah siswa dalam proses belajar. Selain itu juga dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengawasi perkembangan siswa dan perkembangan sekolah pada umumnya, sehingga mempermudah dalam menentukan kebijakan sekolah.
2.      Bagi Guru Bidang Studi
Dari hasil layanan bimbingan siwa maka manfaat yang diperoleh guru bidang studi adalah sebagai informasi yang nantinya dapat dijadikan bahan evaluasi guna peningkatan prestasi akademik guru bidang studi yang bersangkutan.
3.      Bagi Wali Kelas
Dari hasil layanan bimbingan siswa manfaat yang diperoleh wali kelas adalah sebagai informasi mengenai kondisi perkembangan anak didiknya, sehingga diharapkan wali kelas dapat ikut berpartisipasi membantu siswa dalam memecahkan masalahnya dan pembinaan anak didiknya.


4.      Bagi Guru BK / Konselor
5.      Dari hasil layanan bimbingan siswa manfaat yang diperoleh bagi guru BK / konselor adalah sebagai bahan pertimbangan untuk membimbing siswa dan membantu mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa tersebut.
6.      Bagi Orang Tua
Dari hasil layanan bimbingan siswa maka manfaat yang diperoleh bagi orang tua adalah sebagai bahan informasi tentang keadaan anaknya agar orang tua dapat mengawasi perkembangan anaknya serta dapat memberikan pengarahan yang sesuai bagi anak-anaknya.
7.      Bagi Praktikan
Dari hasil layanan bimbingan siswa maka manfaat yang diperoleh praktikan adalah sebagai pengalaman membantu siswa yang mengalami masalah dan memberikan bimbingan layanan siswa sebagai bekal penunjang dalam peningkatan kompetensi sebagai guru yang professional di masa yang akan datang.
8.      Bagi Siswa
Dari hasil layanan bimbingan siswa manfaat yang diperoleh siswa adalah sebagai bahan pertimbangan yang digunakan siswa untuk mengenal dan memahami dirinya dengan baik dan membantu dalam memecahkan masalah sehingga dapat mengatasi masalah yang sedang dihadapi oleh siswa serta menunjang pencapaian prestasi yang optimal.

E.     Teknik Pengumpulan Data
Dalam penyusunan laporan studi kasus ini, dibutuhkan informasi yang lengkap dan akurat mengenai data siswa. Adapun metode yang dipergunakan adalah sebagai berikut :


1.      Metode Observasi
Metode ini dilakukan dengan mengamati secara langsung tingkah laku siswa yang mengalami kesulitan belajar baik didalam maupun diluar kelas. Hal ini dilakukan untuk mengetahui keadaan data  yang akurat dan langsung dengan konseli yang dijadikan studi kasus.
2.      Metode Angket
Metode ini terdiri dari :
a.      Instrumen Problem Check List
Metode ini berbentuk kumpulan pertanyaan yang disusun secara sistematis dalam sebuah daftar pertanyaan, kemudian diberikan kepada konseli untuk diisi, kemudian angket diserahkan kembali kepada praktikan. Dari check list ini praktikan bisa mengetahui masalah-masalah apa yang  sedang dihadapi oleh siswa.
b.      Sosiometri
Metode ini berisi pertanyaan tertulis untuk memperoleh informasi mengenai teman serta guru konseli yang disukai maupun tidak disukai beserta alasannya sehingga praktikan memperoleh gambaran tentang kebiasaan bersosialisasi dan berinteraksi konseli dengan lingkungan sekolah.
c.       Habits
Metode ini dilakukan dengan meminta konseli untuk mengisi angket yang berupa check list yang berkaitan dengan cara belajar, mengatur waktu dan semua yang berkaitan dengan belajar. Dari metode ini praktikan bisa mengetahui masalah-masalah apa yang dihadapi oleh siswa.
3.      Metode Dokumenter
Metode ini merupakan teknik mengumpulkan data dengan mempelajari catatan / dokumen data konseli yang ada di sekolah, baik yang tersimpan pada staf bimbingan maupun pada catatan pribadi. Metode ini dilakukan dengan cara melihat nilai tugas, nilai raport, nilai ulangan harian dan nilai keaktifan konseli didalam kelas. Selain itu dapat juga dilihat dari presensi siswa dan buku tata tertib konseli.
4.      Metode Wawancara
Metode wawancara adalah proses memperoleh keterangan dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka langsung antara pewawancara dengan responden dengan / tanpa menggunakan pedoman wawancara. Dalam wawancara ini akan terungkap semua keluhan yang menjadi beban siswa.
F.     Gejala dan Alasan Pemilihan Siswa (Konseli)
Langkah pertama yang penulis lakukan dalam memberikan layanan bimbingan siswa adalah melakukan pengamatan terhadap populasi dari calon konseli yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar pendidikan jasmani dan memerlukan bimbingan atau bantuan atas masalah yang dihadapinya.
Untuk menentukan siswa yang diperkirakan mengalami masalah dan kesulitan belajar praktikan melakukan pengamatan di lapangan. Dimana praktikan memperhatikan gejala-gejala permasalahan yang ada melalui:
1.      Pengamatan Fisik
Praktikan mencari siswa yang tampak tidak bergairah dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, ekspresi wajah yang lesu dan tampak kusam. Praktikan juga mengamati siswa yang berpenampilan tidak rapi dan acak-acakan.
2.      Pengamatan Psikis
Praktikan mencari siswa yang sulit menguasai materi yang diajarkan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung dan dari sikap yang menunjukkan kegelisahan.
Dari pengamatan yang dilakukan praktikan berdasarkan kriteria di atas, maka praktikan menentukan  siswa kelas VII  yang bernama “Rafi Yudhoyono”  (fiktif) sebagai  konseli. Praktikan  mengharapkan usaha ini dapat memberikan bantuan kepada sekolah dalam membantu meningkatkan prestasi belajar konseli serta dapat membantu konseli mengatasi masalahnya.
Dalam penyusunan laporan layanan bimbingan siswa ini, praktikan memilih siswa yang bersangkutan sebagai konseli karena beberapa alasan sebagai berikut:
1.      Pada saat proses belajar mengajar di kelas sedang berlangsung, konseli tidak pernah memperhatikan penjelasan dari guru. Konseli lebih suka berbicara sendiri bersama teman sebangkunya dan suka berjalan-jalan didalam kelas (suka ribut dan membuat kegaduhan).
2.      Konseli kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran Bahasa Inggris.
3.      Dalam mengikuti pelajaran, konseli kelihatannya merasa kesulitan untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.
4.      Konseli sering tidak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.
5.      Konseli kurang disenangi teman-temannya karna waktu proses pembelajarn berlangsung membuat keributan atau ramai sehingga mengganggu teman-temannya aktivitas pembelajaran.
6.      Konseli jarang masuk pada pelajaran Bahasa Inggris
Dari hasil pengamatan dan wawancara kepada beberapa pihak yang terkait, maka praktikan memilih siswa tersebut sebagai konseli / obyek studi kasus untuk ditangani dan dibantu dalam menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi.
G.    Konfidensialitas  atau Kerahasiaan Data
Kerahasiaan data konseli merupakan hal yang sangat penting dalam suatu kegiatan profesional bimbingan. Dan hal ini sudah merupakan tanggung jawab profesional konselor dan calon konselor, sebagaimana tercantum dalam kode etik konselor.
Kode etik diperlukan dalam menjalankan berbagai profesi. Hal ini dimaksudkan agar profesi yang bersangkutan selalu mendapatkan pengakuan dari masyarakat karena keseluruhan cita-cita profesinya.     
     Catatan-catatan tantang diri konseli yang meliputi data hasil observasi, angket dan check list serta data lain semuanya merupakan informasi yang bersifat rahasia dan hanya boleh digunakan oleh pihak-pihak tertentu yang digunakan untuk kepentingan studi/riset.

 

 B. LAYANAN BIMBINGAN SISWA

Untuk pemberian studi kasus ini,penulis mengambil salah satu siswa dari kelas VII C, kelas tersebut merupakan kelas secara langsung yang dijadikan praktek pengelaman lapangan (PPL). Layanan ini di berikan kepada siswa yang mempunyai masalah dalam proses pembelajaran.
Dalam pelaksanaan bimbingan belajar ini ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar dalam pemberian bantuan dapat berjalan dengan prosedur yang telah di tentukan. Adapun langkah-langkah studi kasus adalah identifikasi kasus, diagnosis, prognosis, treatmen (pemberian bantuan), dan follow-up (tindak lanjut).
A.    Identifikasi kasus
Identifikasi kasus merupakan langkah awal dari pelaksanaan studi kasus. Tahapn identifikasi bertujuan untuk menentukan siswa yang di perkirakan mempunyai masalah dan memerlukan bantuan. Adapun dasar yang dipakai untuk melihat kondisi tersebut ialah
1. Siswa bersikap kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
2. Siswa yang bersangkutan kurang memperhatikan dalam kegiatan belajar mengajar.
3. Siswa selalu terlihat kurang bersemangat dalam kegiatan belajar mengajar.
4. Hasil evaluasi menunjukkan prestasi yang tidak memuaskan.
5. Siswa cenderung melamun saat mengikuti kegiatan pembelajaran.
6. Siswa yang bersangkutan ini sering merasa terbebani dengan tugas-tugas yang di berikan oleh guru
7. Siswa yang bersangkutan sering tidak masuk kelas.
Metode yang di gunakan dalam kasus ini adalah Observasi, wawancara, Angket dan dokumenter….
1.         Proses Penemuan Kasus
Kasus ini praktikan temukan pada saat proses belajar mengajar (KBM) berlangsung dan atas dasar pengamatan serta observasi yang di lakukan oleh praktikan selama ini baik itu dikelas maupun di luar kelas
Identifikasi kasus dapat diartikan sebagai suatu metode untuk menyelidiki dan mempelajari individu secara intensif, integrative dan komprehensif untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik
Setelah itu praktikan mengumpulkan data dan masalah yang dihadapi oleh siswa. Proses pengumpulan data diperoleh melalui berbagai cara, selain melalui metode observasi, metode angket (terdiri dari problem check list, studi habits dan sosiometri), juga melalui metode wawancara dan studi dokumenter. Demi menjaga kerahasiaan data tentang konseli, maka identitas klien dibuat fiktif. Data-data yang dimaksud antara lain :
2.      Data Identitas
a.      Data pribadi Siswa
Ø      Nama                              : Mardianto rizki (fiktif)
Ø      Nama Panggilan : Rizki
Ø      Tempat / Tgl. Lahir        : Pakisaji, 26 November 1997
Ø      Agama                            : Islam
Ø      Jenis Kelamin                 : Laki-laki
Ø      Alamat                           : Jl. Glanggang No. 27 Pakisaji
Ø      Rumah yang ditempati: Rumah sendiri
Ø      Kewarganegaraan          : Indonesia
b.      Data Orang Tua
Ø            Nama Orang Tua         : Masyur  (fiktif)
Ø            Agama             : Islam
Ø            Jenis Kelamin              : Laki-laki
Ø            Alamat Orang Tua      : Jl. Glanggang No. 27 Pakisaji
Ø            Rumah yang ditempati: Rumah sendiri
Ø  Kewarganegaraan       : Indonesia
Ø  Pekerjaan Orang Tua   : Montir
Ø  Pendidikan Terakhir    : SMA
c.       Kedudukan siswa dalam keluaarga
Ø            Siswa Anak Ke           : 2 (Dua)
Ø            Status              : Kandung
Ø            Jumlah kakak              : 1 (Satu)
Ø            Jumlah adik                 : 1 (Satu)
Ø            Jumlah anak yang di tanggung orang tua: 3 (Tiga)

B.     Analisis
Analisis merupakan langkah mengumpulkan informasi tentang diri konseli beserta latar belakangnya. Adapun informasi atau macam data yang di kumpulkan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kepribadian konseli, seperti kemampuan minat, motivasi dan kesehatan fisik.
            Tujuan dari kegiatan analisis adalah untuk memperoleh pemahaman tentang diri konseli dalam hubungan dengan syarat-syarat yang diperlukan untuk memperoleh penyesuaian diri baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan dating.
            Pada awal pelaksanaan studi kasus data yang di kumpulkan oleh praktikan merupakan data yang diperoleh antara lain melalui observasi, wawancara, problem check list atau daftar check.
2.   Hasil Data Observasi
Dari hasil observasi yang dilakukan kepada konseli selama proses belajar mengajar, Kegiatan observasi dilakukan oleh praktikan kepada konseli baik di dalam maupun di luar kelas. diperoleh data sebagai berikut:
  1. Tidak aktif dalam pembelajaran berlangsung.
  2. Kadang dikelas ramai dan kadang pula diam.
  3. Tidak terlalu memperhatikan ketika guru menjelaskan pelajaran.
  4. Konseli tidak begitu antusias dalam mengikuti pelajaran.
  5. Konseli cenderung lebih senang mengobrol bersama teman sebangkunya atau teman konseli yang duduk di belakang konseli.
  6. Konseli juga lebih senang berjalan-jalan di dalam kelas saat proses belajar mengajar sedang berlangsung. Dilihat dari nilai ulangan harian, kemampuan akademik konseli kurang maksimal.
3.      Hasil Data Wawancara
      Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara adalah sebagai berikuti:
  1. Sering melamun dikelas karena banyak pikiran.
  2. Hubungan kurang harmonis dengan oleh orang tuanya sendiri sehingga menyebabkan konseli selalu menjauh, takut dan menghindar dari orang tuanya sendiri.
  3. Konseli ingin ada perhatian dari kedua orang tuanya dan saudaranya sehingga semangat belajarnya bangkit atau semangat kembali dan bisa meningkatkan prestasinya.
  4. Konseli merasa senang, semangat, sedikit memahami dan cepat tanggap dengan pelajaran pendidikan Bahasa Indonesia  karena dia merasa bisa dan penjelasannya tidak terlalu menegangkan.
  5. Konseli tidak mengalami kesulitan saat belajar pendidikan Bahasa Indonesia  karena konseli mempunyai buku paket pendidikan Bahasa Indonesia sendiri dan konseli mengalami kesulitan dalam pelajaran lain contoh matematika.
  6. Konseli merasa sering takut bertanya kepada gurunya karena tidak hafal dan  takut atau malu ditertawakan oleh teman-temannya jika pertanyaan konseli tersebut salah kalimat/salah kata-kata.
  7. Konseli merasa bersemangat dalam menerima pelajaran pendidikan Bahasa Indonesia, jika hal tersebut dalam penyampaian materi.
  8. Kadang-kadang konseli sering juga mengalami kesulitan dalam pelajaran pendidikan Bahasa Indonesia karena untuk mengerjakan soal dengan memakai kata atau kalimat yang baku dan relevan.
4.      Hasil Problem Checklist
Program check list ini berhubungan dengan masalah-masalah yang dihadapi siswa diperoleh informasi sebagai berikut :
1). Masalah kesehatan
a.          Saya kurang  tidur/tidak dapat tidur.
b.         Merasa lelah dan tidak bersemangat.
c.          Sering Merasa ngantuk.
d.         Saya sering pusing atau pening.
e.          Sering gemetar dan keluar keringat.
f.          Mudah kaget dan gugup.
g.         Mempunyai penyakit menahun.
2). Masalah keadaan kehidupan (Ekonomi)
a.           Saya sering pinjam uang.
b.          Terpaksa menunggak membayar SPP.
3). Masalah keluarga                                                                
a.          Selalu bertengkar dengan saudara.
b.         Orang tua kurang memperhatikan saya.
c.          Sukar menyesuaikan diri dengan ayah.
d.         Sukar menyesuaikan diri dengan ibu.
4). Masalah Agama dan Moral
a.     Malas bersembayang.
b.     Kurang dapat toleransi dengan agama lain.
c.     Mudah merasa ibah dengan perbandingan orang lain.
d.    Sering tidak mengembalikan barang milik orang lain yang dipinjam.
e.    Merasa hormat dengan orang yang lebih tua.
f.    Merasa hormat dengan wanita.
5). Masalah Pribadi
a.    Sering merasa malu dengan kawan lawan jenis.
b.    Merasa rendah diri.
c.    Senang merasa curiga dengan orang-orang lain.
d.    Saya ingin lebih menarik.
e.    Ingin selalu dihargai.
6). Masalah Hubungan Sosial Dan Berorganisasi
a.    Suka bergaul.
b.    Takut bergaul dengan atasan.
c.    Sering bertentangan pendapat dengan orang lain.
d.    Sukar menerima kekalahan.
e.    Bingung bila berhadapan dengan orang banyak.
f.    Mudah merasa malu.
g.    Sering tidak sabar.
h.    Lebih senang menjadi anggota dari pada ketua.
7). Masalah Rekreasi, Hobi dan Penggunaan Waktu
a.    Keinginanku untuk rekreasi serlalu terhalang.
b.    Suka berolahraga tapi tidak ada kesempatan.
c.    Lebih suka buku-buku hiburan dari pada buku pelajaran.
d.    Salah satu keluargaku selalu menghalangi hobi ku.
e.    Orang tuaku tidak pernah mengajak rekreasi.
f.    Waktu saya banyak terpakai untuk memenuhi hobi/keinginan saya.
8). Masalah Penyesuaian Terhadap Sekolah
a.       Ingin pindah kelas lain.
b.      Sering merasa cemas jika ada ulangan.
c.       Bahan pelajaran sukar dikuasai.
d.      Ada beberapa pelajaran yang tidak saya senangi.
e.       Pelajaran di sekolah ini terlalu membosankan.
f.       Pribadi salah seorang guru menyebabkan pelajarannya tidak ku perhatikan.
g.      Seorang kawan selalu menjengkelkan saya.
9). Masalah Penyesuaian Terhadap Kurikulum
a.       Saya takut terhadap ulangan.
b.      Saya mengerti isi buku pelajarn.
c.       Sukar menangkap dan mengikuti pelajaran.
d.      Sering kwatir kalau-kalau mendapat giliran maju kedepan kelas.
e.       Sering mendapatkan kesukaran dalam menyelesaikan pekerjaan rumah
f.       Pelajaran yang bersifat membaca malas bagiku.
g.      Pelajaran yang bersifat hafalan sukar bagiku.
10). Masalah Kebiasan Belajar
a.       Belajar kalau ada ulangan.
b.      Belajar tidak teratur waktunya.
c.       Belajar hanya waktu malam hari.
d.      Sukar memusatkan perhatian waaktu belajar.
5.      Hasil Data Studi Habits
a.                                                       Konseli mempunyai waktu yang cukup untuk belajar di rumah.
b.                                                      Konseli ingin tahu cara belajar yang baik.
c.                                                       Konseli belajar kalau menghadapi ujian.
d.                                                      Konseli belajar kalau disuruh.
e.                                                       Konseli belajar diajak teman.
f.                                                       Pembagian waktu belajar konseli kurang baik.
g.                                                      Konseli sering menyelesaikan tugas tidak tepat waktu.
h.                                                      Konseli sering belajar kelompok dari pada belajar sendiri.
i.        Pada waktu belajar konseli sering mendapatkan gangguan dari luar seperti adik, kakak dan teman.
j.        Konseli lebih suka nonton TV dari pada belajar.
k.      Setelah dibaca berulang-ulang konseli baru mengerti isi pelajaran.
l.        Karena tidak suka dengan mata pelajaran tertentu konseli malas belajar.
m.    Konseli tidak mau belajar jika tidak suka gurunya.
Kebiasaan belajar dalam bentuk pertanyaan yang diisi konseli sesuai jawaban dari angket adalah dalam satu hari, konseli menggunakan waktu untuk belajar pada malam hari selama 1/2 jam yakni mulai puku: 19.30 sampai dengan pukul: 20.00 malam.


6.      Hasil Data Sosiometri
1.                  Apakah kamu mempunyai tempat sendiri untuk belajar?
Ø  Tidak, karena rumah sempit
2.                  Apabila mempunyai apakah memadai?
Ø  Kurang memadai
3.                  Kapan umumnya kamu belajar di rumah?
Ø  Malam hari pukul: 19.3o sampai dengan 20.00
4.                  Apakah ada yang membantu waktu belajar?
Ø  Tidak pernah
5.                  Selain bapak / ibu siapa yang mengajarimu di rumah?
Ø  Teman-teman (tidak ada)
6.                  Apakah kamu mengikuti pelajaran privat/les?
Ø  Tidak pernah
7.                  Jika mengikuti pelajaran privat apa yang kamu ikuti?
Ø  Bahasa Inggris
8.                  Apakah kamu berangkat sekolah tepat waktu?
Ø  Kadang-kadang
9.                  Apakah kamu pulang sekolah tepat waktu?
Ø  Kadang-kadang
10.              Apakah kegiatan yang kamu lakukan di rumah?
Ø  Bermaain
Ø   Sholat
Ø   Belajar
11.              Apakah harapan kamu setelah lulus dari SMP Negeri 2 Pakisaji ?
Ø  Masuk SMK / masuk pondok pesantren
Ø  Kerja

12.              Dibandingkan dengan saudaramu, bagaimanakah prestasimu?
Ø  Sama saja
13.              Pernahkah kamu mencapai prestasi kejuaraan?
Ø  Belum pernah
14.  Apakah kamu mengalami kesulitan dalam melaksanakan belajar sendiri di rumah dan disekolah?
Ø  Tidak
C.   Diagnosis
Tahap ini bertujuan untuk mencari, menemukan, dan menentukan faktor yang menyebabkan timbulnya masalah belajar dengan tujuan untuk mengetahui letak masalah dan latar belakang masalah.
Pada tahap ini ada dua langkah yang harus dilakukan yaitu identifikasi masalah dan mencari penyebab timbulnya masalah.
a)        Identifikasi Masalah
Masalah belajar:
1.      Tidak aktif dikelas.
2.      Terkadang ramai dikelas dan kadang diam.
3.      Lumayan memperhatikan ketika guru menjelaskan pelajaran.
b)        Menentukan Penyebab Masalah Tersebut
Tahap ini bertujuan untuk mencari faktor-faktor yang menyebabkan munculnya masalah yang dihadapi konseli, diantaranya adalah:
a.       Sering mengalami kesulitan dalam belajaran.
b.      Kurang memahami apa yang diajarkan guru.
c.       Takut bertanya sehingga konseli tidak bisa menerima materi dengan baik.

D.    Prognosis
Prognosis memberikan gambaran tentang bantuan-bantuan apa saja yang akan diberikan kepada konseli untuk menyelesaikan masalahnya. Prognosis memberikan gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi apabila masalah konseli tidak segera diatasi, dan tentang berbagai peluang yang akan terjadi jika masalah konseli segera diatasi. Selain itu, jika masalah konseli tidak segera diatasi maka diperkirakan akan terjdi hal-hal sebagai berikut:
1.      Konseli akan pasif dikelas.
2.      Prestasi konseli akan semakin turun.

Jika masalah konseli segera diatasi, maka kemungkinan yang akan terjadi adalah sebagai berikut:
1.      Konseli akan aktif dalam kelas dan bahkan kemampuan akan meningkatkan prestasinya.
2.      Prestasi akan meningkat.
E.           Pemberian Bantuan (Treatment)
Mengacu terhadap permasalahan yang dihadapi konseli, maka terdapat beberapa alternatif bantuan bimbingan yang dapat diberikan, antara lain:
1.      Memberi motivasi pada konseli agar tidak takut bertanya.
2.      Berusaha untuk lebih terbuka terhadap orang tua, guru, dan teman.
3.      Memotivasi konseli untuk bersemangat dalam belajar.
4.      Memotivasi konseli agar prestasinya semangkin meningkat.
Adapun usaha pemberian bantuan ini merupakan inti dari studi kasus. Agar konseli dapat mengatasi masalah kesulitan belajar, maka diperlukan bantuan sebagai berikut :
1.        Bimbingan pribadi
               Dalam bimbingan pribadi ini, praktikan berusaha untuk mendekati konseli agar konseli dapat sharing atau menceritakan masalah-masalah yang terjadi didalam diri konseli. Disini, praktikan menasehati konseli untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga konseli dapat meninggalkan sifat-sifat negatif yang ada didalam dirinya seperti sifat iri, mudah tersinggung, mudah marah dan sering mengingkari. Praktikan juga memberikan solusi kepada konseli untuk membiasakan diri melakukan hal-hal yang positif.
2.        Bimbingan sosial
Dalam bimbingan sosial ini, praktikan memberitahukan kepada konseli bagaimana cara berteman yang baik serta pentingnya menjalin hubungan yang baik dengan banyak orang. Praktikan juga menyarankan agar konseli ikut aktif dalam kegiatan remaja yang ada di sekitar tempat tinggal konseli seperti karang taruna, remaja masjid, dan lain-lain. Mengenai keadaan keluarga, praktikan memberi masukan kepada konseli agar selalu menuruti nasehat-nasehat dari orang tua, karena semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Praktikan juga menasehati agar konseli selalu terbuka dengan orang tua dan memberitau kepada konseli pentingnya menjaga komunikasi antara konseli dengan orang tua. Praktikan juga berusaha menasehati konseli agar tidak selalu menjadi anak yang manja, dikarenakan sekarang konseli sudah beranjak dewasa.
3.        Bimbingan belajar
Dalam bimbingan belajar ini, praktikan berusaha membantu konseli untuk mengatur jadwal-jadwal kegiatan konseli baik di sekolah maupun di rumah agar konseli dapat membagi waktunya dengan baik untuk belajar, bermain maupun istirahat. Praktikan juga membantu konseli agar tidak mengalami kesulitan, terutama pada mata pelajaran Bahasa Indonesia  yang praktikan ajarkan. Praktikan menyarankan kepada konseli agar selalu menanyakan semua materi pelajaran yang belum dipahami oleh konseli agar proses belajar konseli tidak terganggu. Praktikan juga menasehati konseli agar tidak mengobrol atau ramai di dalam kelas karena hal ini dapat merugikan diri konseli sendiri dan juga teman-teman konseli yang lain. Praktikan juga mengupayakan untuk memberikan kepercayaan kepada konseli pada saat proses belajar mengajar sedang berlangsung, misalnya menyuruh konseli maju untuk mengerjakan soal di depan kelas.
F.     Evaluasi
Setelah konseli mendapat bimbingan yang telah dilakukan oleh praktikan, konseli telah menunjukan perubahan yang berdampak positif pada dirinya.
Adapun perubahan yang ditunjukan oleh konseli antara lain :
1.      Konseli menjadi lebih baik terutama dalam hal belajar, dilihat dari hasil belajar yang telah diperoleh konseli.
2.      Konseli mulai mengurangi mengobrol di dalam kelas selama proses belajar mengajar sedang berlangsung.
3.      Konseli mulai mempunyai motivasi untuk belajar dan bersekolah.
4.      Konseli  mulai dapat bersosialisasi dengan teman-temannya yang lain.
G.  Tinjak Lanjut (Follow-Up)
            Bantuan yang telah diberikan kepada konseli tidak akan berhasil tanpa tindak lanjut atau Follow Up. Untuk  mencapai  keberhasilan  bantuan  yang  akan  diberikan memerlukan waktu yang lama. Untuk itu perlu diadakan kerjasama dengan pihak lain, yaitu guru BP/BK, guru wali kelas, dan juga guru-guru pengajar. Dan karena keterbatasan waktu maka praktikan tidak dapat melakukan follow up (tindak lanjut) ini sendiri melainkan diserahkan kepada pihak yang lebih berwenang. Melalui kegiatan tindak lanjut dari pemberian bantuan diharapkan konseli dengan cepat dapat mengatasi masalahnya dan dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
Adapun kegiatan follow up yang dapat dilakukan dalam praktek layanan bimbingan siswa ini adalah:
1.       Mengadakan wawancara dengan konseli tentang kegiatan yang telah dilakukan setelah mendapatkan bimbingan dan kemungkinan masalah belajar yang sulit teratasi.
2.       Mengadakan monitoring secara berkelanjutan terhadap perkembangan keberhasilan pemecahan masalah.
3.       Memberikan saran, nasehat kepada konseli untuk memahami dirinya, menyadari kelebihan dan kelemahan dan memberi motivasi kepada konseli untuk bersemangat dengan meningkatkan prestasi belajarnya.

C. ANALISIS DAN BAHASAN

Bab ini akan menguraikan analisis dan bahasan dalam pelaksanaan studi kasus yang dilakukan oleh praktikan. Dalam analisis ini diuraikan tentang tercapainya tujuan Pengalaman Praktek Lapangan (PPL), program kegiatan, faktor pendukung dan penghambat yang ditemui selama kegiatan Pengalaman Praktek Lapangan (PPL). Sedangkan dalam bahasan menjelaskan dari sudut teori tentang hasil analisis kegiatan yang terlaksana maupun yang tidak terlaksana.
A.    Analisis
Kegiatan analisis memaparkan uraian atas ketercapaian tujuan pelaksanaan Pengalaman Praktek Lapangan (PPL) dan program kegiatan, melihat kemungkinan adanya kesenjangan antara teori dan praktik dilapangan serta melihat faktor yang mendukung maupun yang menghambat pelaksanaan kegiatan.
Pelaksanaan studi kasus melalui beberapa tahap, yaitu analisis, sintesis, diagnosis, prognosis, dan pemberian treatment serta tinjak lanjut. Semua tahap tersebut dapat dilaksanakan dengan baik oleh praktikan. Penggalian data kasus dilakukan baik dalam proses pemberian bantuan / perlakuan maupun sebelum pelaksanaan pemberian bantuan / perlakuan dengan harapan praktikan dapat memahami kasus dengan seutuhnya.
Kasus yang diangkat dalam studi kasus ini adalah konseli yang mengalami masalah kompleks, yaitu masalah belajar dan pribadi yang sangat berat karena menyangkut kelangsungan hidupnya. Praktikan membantu konseli mengatasai masalah belajarnya melalui beberapa rencana bantuan yang meliputi memberikan motivasi dan masukan agar konseli lebih baik dari sebelumnya khususnya masalah hasil belajar.
Setelah melalui beberapa treatment yang diberikan, ternyata konseli mengalami perubahan dalam kebiasaan baik di sekolah maupun di rumah. Konseli kadang-kadang membayangkan atau teringat masalah yang ada di rumahnya, hal ini menunjukkan bahwa bantuan yang diberikan ternyata efektif untuk membantu konseli mengatasi masalahnya. Untuk mengatasi masalah pribadinya, praktikan tidak dapat membantu konseli secara penuh.
 Hasil yang diperoleh dari kegiatan analisis ini adalah sebagai berikut:
1.      Tahap persiapan
a.       Kegiatan observasi disekolah
Dalam  kegiatan observasi ini berjalan dengan baik dan hasil yang di peroleh adalah pemahaman tentang sekolah, karakter siswa, dan sistem pembelajaran yang di gunakan dalam sekolah.
Hambatan dalam kegiatan ini adalah praktikan kurang siap dalam melaksanakan kegiatan ini karena praktikan merasa belum bisa menyampaikan materi kepada siswa, Akan tetapi disisi lain kegiatan ini berjalan lancar karena adanya  dukungan dari pihak sekolah dan penerimaan sekolah yang baik terhadap praktikan.
 b. Kegiatan analisis kebutuhan siswa
Kegiatan ini dilaksanakan untuk nmengetahui kebutuhan siswa akan bimbingan dan konseling. Analisis kebutuhan siswa ini didapat dari informasi dari konselor pamong dan pelancaran angket-angket yang telah dilancarakan konselor sekolah  pada awal semester ganjil. Praktikan hanya melanjutkan kegiatan yang telah diprogramkan oleh pihak sekolah yang kemudian menambah beberapa kegiatan layanan yang di butuhkan siswa dengan menganalisis melalui pengamatan secara langsung tatap muka ataupun tidak langsung siswa berada diluar sekolah.
Dalam pelaksanaaan kegiatan ini berjalan dengan lancar karena konselor memberikan informasi dan data-data yang cukup yang lengkap tentang kegiatan layanan yang telah diberikan ataupun yang sudah diberikan kepada siswa. Hambatan dalam kegiatan ini adalah tidak terlancarkannya angket yang dikarenakan kedatangan praktikan disekolah sudah memasuki tengah semester sehingga PBM sudah berjalan 3 bulan.

B.     Bahasan
Bahasan  difokuskan pada alasan terjadinya  suatu hasil analisis fenomena yang terjadi pada praktik pengalaman lapangan (PPL). Sub-sub bahasan berisi tentang bahasan-bahasan dari hasil analisis yang dikaitkan dengan teori-teori. Bahasan dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa hasil analisis dapat ditinjau berdasarkan sudut teori, sehingga memperkuat hasil analisis.
Pada dasarnya manusia adalah mahkluk yang terus mengalami proses perubahan melalui beberapa pengalaman hidup yang dialaminya. Praktikan memerlukan latihan-latihan yang dapat menunjang keberhasilannya dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai seorang konselor professional.  
Konseli mengalami masalah yang dihadapi, maka terdapat beberapa alternatif bantuan bimbingan yang dapat diberikan, antara lain:
5.      Memberi motivasi pada konseli agar tidak takut bertanya.
6.      Berusaha untuk lebih terbuka terhadap orang tua, guru, dan teman.
7.      Memotivasi konseli untuk bersemangat dalam belajar.
8.      Memotipasi konseli agar prestasinya semangkin meningkat.
Sebagai seorang konselor profesioanal, praktikan di tuntut untuk bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang helper. Keberhasilan proses pemberian bantuan sangat berkaitan erat dengan pengetahuan dan ketrampilan dalam memberikan bantuan terhadap orang yang memerlukan.
Praktikan dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang calon konselor di sekolah kiranya dapat membantu konseli berdasarkan pada teori yang telah dipelajari dibangku kuliah. Namun kenyataannya, praktikan tidak sepenuhnya melakukan studi kasus ini berdasarkan teori karena ada beberapa hal yang tidak dilakukan oleh praktikan berkaitan dengan pelaksanaan studi kasus.
Setelah konseli mendapat bimbingan yang telah dilakukan oleh praktikan, konseli telah menunjukan perubahan yang berdampak positif pada dirinya.
Adapun hasil yang nampak atau perubahan yang ditunjukan oleh konseli antara lain :
5.      Konseli menjadi lebih baik terutama dalam hal belajar, dilihat dari hasil belajar yang telah diperoleh konseli.
6.      Konseli mulai mengurangi mengobrol di dalam kelas selama proses belajar mengajar sedang berlangsung.
7.      Konseli mulai mempunyai motivasi untuk belajar dan bersekolah.
8.      Konseli  mulai dapat bersosialisasi dengan teman-temannya yang lain.
Beberapa hambatan yang dialami oleh praktikan dalam melaksanakan studi kasus disebabkan karena kekurangan praktikan dalam memahami dan mengintegrasikan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah dengan pengalaman yang diperoleh pada saat melakukan praktek serta tidak dapat menerapkan dengan baik keterampilan-keterampilan yang telah diperoleh selama ini.



   PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan uraian tentang studi kasus dari bab 1 sampai bab II, maka bisa diambil kesimpulan bahwa studi kasus merupakan suatu metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seseorang secara mendalam dengan tujuan untuk membantu individu dengan tujuan untuk mencapai penyesuaian yang baik dan mencapai perkembangan pribadi yang optimal.
Dalam laporan studi kasus ini, kasus yang diambil adalah siswa yang mengalami masalah dalam pelajaran Pendidikan  Bahasa Indonesia , diantaranya tidak ada orang yang membantu konseli dalam belajar, susah menyesuaikan diri pada teman, bahkan takut bertanya kepada guru sehinga timbullah rasa sedikit malas yang dialami oleh konseli dalam belajar Pendidikan Bhasa Indonesia.
Berdasarkan hasil uraian analisis data yang telah disusun, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      Layanan bimbingan siswa merupakan upaya mengenal, memahami dan menetapkan siswa yang mengalami kesulitan belajar.
2.      Tujuan diselenggarakan layanan bimbingan siswa adalah untuk membantu siswa mengenali proses kehidupan beserta permasalahannya dan memberi solusi pemecahan permasalahan agar masalah yang dihadapi oleh konseli tidak menganggu proses belajarnya.
3.      Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam layanan bimbingan siswa ini antara lain :
a.        Identifikasi kasus
b.       Diagnosis
c.        Prognosis
d.       Pemberian bantuan (treatment)
e.        Evaluasi
f.        Tindak lanjut (follow up)
4.      Metode yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu observasi, metode angket (terdiri dari problem check list, studi habits dan sosiometri), wawancara dan studi dokumenter.
5.      Masalah yang dialami oleh konseli adalah masalah belajar, masalah keluarga, masalah psikologis dan masalah di sekolah.
6.      Bantuan yang diberikan praktikan adalah berupa bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karier.
7.      Tindak lanjut adalah suatu langkah / tindakan untuk mengadakan pemantauan / monitoring konseli setelah diadakan kegiatan layanan bimbingan. Karena keterbatasan waktu praktikan di sekolah, maka tindak lanjut yang diberikan praktikan kepada konseli selanjutnya ditindaklanjuti oleh pihak sekolah.

B.     Saran
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama dalam rangka  membantu perkembangan potensi anak. Dalam proses belajar mengajar guru tidak akan terlepas dari hambatan  dan permasalahan yang dialami siswa.
Agar permasalahan yang dihadapi siswa dapat terselesaikan secara tuntas, maka ada beberapa saran yang diberikan kepada:
1.      Untuk Kepala Sekolah
a.       Kepala sekolah lebih memberikan perhatian dan pengarahan kepada guru dalam meningkatkan cara mengajar yang baik kepada siswa-siswanya.
b.      Kepala sekolah dapat menetapkan kebijakan yang sesuai dengan kondisi sekolah terutama siswa-siswanya.
2.      Untuk Guru Bidang Studi
  1. Guru bidang studi harus tetap kreatif dalam menyampaikan materi agar dapat meningkatkan motivasi dan kelancaran proses belajar siswa.
  2. Guru bidang studi dapat mengetahui permasalahan anak didiknya dalam belajar terutama pada mata pelajaran  Bahasa Indonesia.
3.      Untuk Wali Kelas
  1. Wali kelas dapat memberikan perhatian khusus kepada siswa-siswanya terutama siswa yang mengalami masalah dalam belajar.
  2. Wali kelas dapat bekerja sama dengan orang tua konseli untuk memantau perkembangan konseli.
  3. Wali kelas hendaknya selalu memotivasi konseli dalam belajar dan bersekolah.
4.      Untuk Guru BK
  1. Guru BK hendaknya memberikan layanan bimbingan secara kontinyu untuk mengetahui perkembangan siswa.
  2. Guru BK hendaknya selalu berkoordinasi dengan wali kelas dan guru untuk mengatasi permasalahan konseli.
5.      Untuk Konseli
a.       Hendaknya lebih memotivasi diri sendiri.
b.      Hendaknya lebih bisa menyesuaikan diri dengan teman maupun keluarga.
c.       Lebih berani untuk bertanya kepada guru jika ada materi yang tidak dipahami dan,
d.      Jika malu bertanya pada guru bertanyalah kepada teman.
6.      Untuk Orang Tua
  1. Orang tua hendaknya selalu memperhatikan dan memantau kegiatan belajar anaknya (konseli) di rumah.
b.   Orang tua harus selalu memberikan waktu dan kasih sayang kepada anaknya (konseli).
c.    Orang tua harus selalu memberikan dorongan dan motivasi kepada konseli agar optimis untuk bersekolah.
d.         Dengan adanya layanan bimbingan siswa ini, diharapkan orang tua konseli dapat menjaga komunikasi yang baik dengan pihak sekolah.
7.      Untuk Praktikan
  1. Praktikan harus tetap meningkatkan kemampuan akademis sebagai bekal menjadi pendidik yang profesional.
  2. Praktikan dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh siswanya dan cara-cara mengatasi kesulitan belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Djumhur, I dan M. Surya. 1975. Bimbingan dan Panyuluhan di Sekolah. Bandung: CV Ilmu.
Haniyah. 1992. Penelitihan Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Hariyati, Indah. 2004. Masalah  Belajar Siswa Buku Petunjuk Pelaksanaan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.s : Laporan studi kasus tidak diterbitkan.
Dwi Septiantoro, Arief. 2008. Kesulitan Belajar Siswa Karena Kurangnya Minat dan Motivasi Dalam Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Pakisaji. Malang: Laporan studi kasus tidak diterbitkan.
UPT Program Pengalaman Lapangan Universitas Negeri Malang. . 2010. Buku Petunjuk Pelaksanaan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Keguruan Universitas Negeri Malang. Malang: UM Press











LAMPIRAN – LAMPIRAN

  1. Biodata Pribadi Konseli







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar